Pada saat berbagai kalangan pemangku kepentingan dunia saat ini sedang mencermati versi terbaru dari standar ISO 31000:2018, Risk management – Guidelines, yang dipublikasikan ISO awal tahun ini, ternyata trend dan perkembangan pembahasan standar turunan lain sebagai bagian ‘ISO 31000 series’ telah berkembang sedemikian pesatnya.

Saat ini terdapat beberapa rancangan standar internasional terkait manajemen risiko yang perlu dicermati karena akan berdampak signifikan ke dunia, termasuk Indonesia, karena ‘risk based thinking’ telah menjadi isu horizontal dalam penerapan standar sistem manajemen yang telah ada, seperti ISO 9001, ISO 14001, ISO 22000, ISO/IEC 27001, ISO 45001, ISO 50001, dan lainnya. Ini berarti semua seri standar ISO 31000 akan menjadi referensi utama dalam penerapan standar sistem manajemen.

Terdapat beberapa rancangan standar terkait manajemen risiko yang saat ini dibahas di ISO/TC 262, yaitu:Terdapat beberapa rancangan standar terkait manajemen risiko yang saat ini dibahas di ISO/TC 262, yaitu:

  • Pembahasan lanjutan atas ISO/CD 31022  Guidelines for Implementation of Enterprise Legal Risk Management;
  • Pembahasan lanjutan atas ISO/CD Guide 73 Risk management – Vocabulary (revisi ISO Guide 73:2009);
  • Dimulainya penyusunan ISO/NP 31030 Managing travel risks – Guidance;
  • Dimulainya penyusunan ISO/IEC NP 31050 Managing emerging risks to enhance resilience – Guidance; dan
  • Dimulainya penyusunan Handbook on Risk management;

Pembahasan lanjutan atas rancangan standar internasional dan dimulainya penyusunan standar baru terkait ‘emerging risks’ dan ‘travel risks’ mencerminkan adanya kebutuhan mendesak dunia terhadap kehadiran suatu standar yang dapat membantu para praktisi manajemen risiko global dalam mengantisipasi lahirnya jenis dan ragam risiko baru yang semula tidak ada menjadi ada karena didorong oleh kemajuan teknologi, pergeseran generasi, dan kompleksitas serta volatilitas risiko di masa mendatang. (NOTE: 1. Importance (and number) of emerging/unknown risk increasing; 2. be ready to cope with emerging risk when the risk happen; 3. most of the emerging risk are global). Tantangan semacam ini pada akhirnya juga akan berlaku tanpa kecuali pada Indonesia.

Agar industry dan organisasi di Indonesia tidak tertinggal dalam penguatan pemahaman aplikasi standar internasional manajemen risiko dan penerapan standar-standar baru yang sedang dikembangkan tersebut, para pimpinan puncak organisasi perlu menyikapi perkembangan ini dengan memahami dan/atau mendalami kembali dokumen standar induk atau standar utama manajemen risiko, yang saat ini juga telah diadopsi Indonesia menjadi SNI ISO 31000: 2018 Prinsip dan pedoman manajemen risiko, sebelum melakukan elaborasi apalagi penerapan standar-standar baru tersebut.

Tanpa pemahaman mendalam terhadap dokumen standar induk tersebut, akan sulit bagi para pimpinan puncak organisasi untuk memperoleh manfaat optimal dari lahirnya standar-standar baru yang pada hakikatnya disusun untuk membuat organisasi lebih efektif dalam penerapan manajemen risiko mereka, yang pada akhirnya menyebabkan organisasi akan lebih tangguh dalam menghadapi semakin banyaknya ketidakpastian dan dalam mengantisipasi lahirnya berbagai bentuk, ragam, dan dimensi baru risiko yang berkembang.

Kesimpulan pentingnya adalah semakin organisasi siap memahami dan menerapkan standar manajemen risiko secara lebih dini dalam sistem manajemen risiko di organisasi mereka, maka organisasi itu akan semakin lincah mengeksploitasi kesempatan dan peluang yang ada dan pada saat yang sama sekaligus akan semakin tangguh menghadapi risiko yang terus berkembang, tanpa sempat terjadi ‘crisis’, apalagi ‘distarter’pada organisasi tersebut.

Hal-hal tersebut di atas merupakan rangkuman penting dari pertemua internasional ISO/TC 262 Risk Management, yang berlangsung di kota Baku – Azerbaijan pada tanggal 23-27 Juli 2018. Pertemuan dihadiri oleh sekitar 50 delegasi dari 16 negara anggota ISO, yaitu: India (BIS); Indonesia (BSN); Jordania (JSMO); China (SAC); Australia (SA); Finland (SFS); Japan (JISC); Canada (SCC); Malaysia (DSM); Colombia (ICONTEC); Argentina (IRAM); United Kingdom (BSI); United States (ANSI); France (AFNOR); Germany (DIN); dan tuan rumah Azerbaijan (UZSTAND); serta wakil dari 6 organisasi liaison. Saat ini ISO TC 262 beranggotakan 55 anggota berstatus P-member dan 18 anggota berstatus O-member serta 8 external liaisons.

Acara pertemuan internasional ini secara resmi dibuka oleh Prof. Namiq Tagiyev, Director General of Azerbaijan Standards Institute – AZSTAND selaku tuan rumah, sedangkan pertemuan plenari ISO/TC 262 dipimpin oleh Chairman ISO/TC 262, Mr. Jason Brown –Australia, dengan didampingi oleh Secretary TC 262 Mrs. Kele Zgavd (BSI Inggris). Sementara itu delegasi Indonesia terdiri dari: Hendro Kusumo, Kepala Pusat Perumusan Standar – BSN dan DR Antonius Alijoyo, selaku ketua NMC ISO TC 262 Indonesia. (HK)

Source: http://www.bsn.go.id/main/berita/detail/9518/standar-internasional-manajemen-risiko-perkembangan-terkini-dan-implikasinya-bagi-indonesia