Penulis:
Wytla Nindya Ritista Atmaja, S. AB, QRMA1
Raisa Fitri Aini, S.E., QRMA2
Research and Development – LSP LPK MKS

 

 

Secara umum, pemimpin merupakan sebuah jabatan dengan otoritas tertentu yang mengemban tugas dan tanggung jawab untuk membawa orang lain kepada pencapaian sasaran. Selain itu, seorang pemimpin juga dituntut untuk senantiasa berpedoman pada aturan dan kebijakan yang berlaku dalam menjalankan kepemimpinannya di organisasi. Namun, hal tersebut tidak menjamin bahwa semua pemimpin memiliki sifat kepemimpinan dalam memimpin organisasi.

Lalu, apa yang dimaksud dengan kepemimpinan?

Kepemimpinan merujuk pada sebuah sifat yang melekat pada diri individu dan mengarah pada bagaimana seseorang mampu menjadi teladan bagi orang yang dipimpin untuk mencapai sasaran bersama. Terminologi kepemimpinan sering dikaitkan dengan pernyataan yang menunjukkan ‘arahan dan perintah’ dari atasan terhadap tugas-tugas tertentu. Begitu pula dalam organisasi, dimana arahan dari pimpinan puncak merupakan gambaran dari langkah organisasi untuk menghadapi ketidakpastian dalam mencapai sasaran.

Kompleksitas pengelolaan organisasi mendorong seorang pemimpin untuk memiliki sifat kepemimpinan yang tepat dan sejalan dengan tujuan organisasi. Begitu juga dalam konteks pengelolaan risiko di organisasi, dimana karakteristik risiko yang melekat pada setiap proses bisnis mendorong seorang pemimpin risiko untuk mampu menjalankan kepemimpinan manajemen risiko secara efektif. Efektivitas kepemimpinan dari seorang pemimpin risiko dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satunya adalah keberaniannya dalam menghadapi risiko dan mengambil risiko pada tingkatan tertentu.

Dalam SNI ISO 31000:2018 dijelaskan bahwa pimpinan puncak, baik eksekutif maupun badan pengawas harus mendemonstrasikan kepemimpinan risiko dalam organisasi dan berkomitmen terhadap kepemimpinan tersebut dalam rangka mengkultivasi budaya risiko yang efektif dalam proses pengelolaan risiko di organisasi”. Dari uraian tersebut dapat diambil pemahaman bahwa komitmen, sikap, dan tindakan seorang pemimpin risiko akan sangat memengaruhi proses penentuan kebijakan pengelolaan risiko di dalam organisasi. Selain itu, hal lain yang perlu dipahami bahwa kepemimpinan dalam konteks manajemen risiko di organisasi akan melahirkan suatu kebiasaan baru yang disebut sebagai budaya sadar risiko organisasi.

Peran seorang pemimpin risiko sangat diperlukan dalam proses asimilasi budaya sadar risiko yang positif. Hal tersebut sesuai dengan sifat pengelolaan risiko yang mengedepankan akuntabilitas dan konsistensi dari seorang pemimpin untuk membawa arah perubahan di organisasi dengan pendekatan-pendekatan inovatif. Dalam jangka panjang, budaya sadar risiko yang terbentuk dari adanya kepemimpinan akan memengaruhi cara pandang, cara berperilaku, serta norma individu. Dengan begitu, seorang pemimpin risiko bertanggung jawab atas penentuan dinamika proses sosial dalam pembangunan budaya sadar risiko di organisasi guna memperkuat penerapan manajemen risiko di organisasi.

Salah satu faktor yang sangat menentukan pengelolaan dinamika proses sosial dalam pembangunan budaya sadar risiko yang positif adalah gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang cenderung mampu mengelola dinamika proses yang terjadi adalah gaya kepemimpinan ‘risk taker’. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar seorang pemimpin mampu menjalankan kepemimpinan yang berani menghadapi dan mengambil risiko. Diantaranya adalah zona nyaman (comfort zones), tantangan (challenges), inovasi (innovation), dan rasa percaya diri (confidence) (Alijoyo, 2012). Zona nyaman merujuk pada pemimpin yang berkomitmen tinggi terhadap pengelolaan risiko di organisasi, dimana mereka dituntut untuk mampu membawa organisasi keluar dari zona nyaman dan mengambil tantangan baru. Tantangan berhubungan dengan kewajiban seorang pemimpin untuk menentukan opsi perlakuan risiko yang diambil agar dapat mengatasi tantangan dengan baik. Selanjutnya inovasi lebih merujuk pada ide-ide yang direalisasikan dan mampu mendorong perubahan proses untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai organisasi. Terakhir, percaya diri merujuk pada sikap dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sebelum membuat keputusan strategis di organisasi.

  

Keterampilan dalam kepemimpinan mencakup proses penyatuan terhadap objektif, proses komunikasi, dan perencanaan di dalamnya. Dalam konteks manajemen risiko, tugas utama seorang pemimpin risiko adalah menentukan arah dan kebijakan risiko dalam organisasi. Keterampilan dalam proses penentuan arah dan kebijakan tersebut perlu didukung dengan kesadaran diri, keterbukaan, kepercayaan, kreativitas, dan kecerdasan seorang pemimpin. Artinya, seorang pemimpin risiko bertanggung jawab penuh terhadap seluruh proses dan aktivitas dalam manajemen risiko. Oleh karena itu, seorang pemimpin risiko harus selalu berpedoman pada aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan sebagai panduan pengelolaan risiko di organisasi.